Parenting

Perhatikan Gaya Belajar Anak

gaya belajar anka

Sekolah mungkin bisa menjadi tempat pertama kali Anak berkenalan dengan ilmu pengetahuan baru. Setiap anak pasti harus beradaptasi dengan lingkungan dan juga gaya mengajar setiap guru dikelas agar dapat menangkap pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru. Maka tak jarang ada anak yang akan sangat mudah mengerti suatu pelajaran tapi tidak sedikit juga yang kesulitan menangkap pelajaran yang diajarkan oleh Guru. Oleh karena itu sebagai orangtua, memiliki peran penting untuk dapat memperhatikan gaya belajar anak agar dapat mengetahui metode yang tepat yang dapat diterapkan kepada Anak. Hal ini pun bisa menjadi kontribusi orangtua terhadap pendidikan Anak.

Memang pada umumnya semua metode belajar bertujuan agar setiap materi pelajaran dapat diterima dengan baik oleh setiap anak. Namun bukankah setiap mata pelajaran itu memiliki tujuan yang berbeda-beda? Oleh karena itu metode pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan dari materi mata pelajaran tersebut dan gaya belajar anak, agar materi dapat dengan mudah diterima oleh Anak.

Mengapa orangtua harus mengetahui gaya belajar Anak?

Keberhasilan seorang anak dalam menangkap materi pelajaran tergantung juga dengan cara guru menyampaikan materinya dan juga gaya belajar anak itu sendiri, jika dalam menyampaikan materinya sudah baik namun tidak sesuai dengan gaya belajar anak itu akan menyebabkan anak akan kesulitan menangkap materi yang diajarkan. Hal ini sering terjadi kesalahpahaman dari pihak orangtua yang menyalahkan guru karena anaknya tidak dapat menangkap materi. Padahal seorang guru saat menyampaikan materi tidak hanya melulu menggunakan metode belajar untuk satu anak tertentu.Menurut Ike Ike Sugianto, Psi., ada anak yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan murid sebagai pendengar setia. Disinilah peran orangtua untuk dapat mengajarkan anak dirumah sesuai dengan gaya belajar anak. Ada 3 jenis gaya belajar anak menurut Ike, yaitu:

Gaya Belajar

Visual Learner

Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. Ciri-ciri anak yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi secara visual sebelum ia memahaminya.

Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, disamping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik. Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Untuk mendukung gaya belajar ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. Caranya, gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Ike sendiri pernah memiliki klien yang setiap kali rela mengubah materi pelajaran menjadi sebuah komik menarik agar anaknya bisa menangkap isi pelajaran tersebut.

Auditory Learner

Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Untuk membantu anak-anak seperti ini, orang tua bisa membekali anaknya dengan tape untuk merekam semua materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Kinesthetic / Tactile Learner

Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.

Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran. Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.

Kelebihannya, mereka memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter ini lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk kemudian belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Nah, mereka yang memiliki karakteristik-karakteristik di atas dianjurkan untuk belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja di lab atau belajar yang membolehkannya bermain. Cara sederhana yang juga bisa ditempuh adalah secara berkala mengalokasikan waktu untuk sejenak beristirahat di tengah waktu belajarnya.

Hanya saja dalam kenyataannya, pengelompokan ketiga gaya belajar ini tidaklah sederhana. Terbukti, pada beberapa anak ditemukan kombinasi antara satu gaya belajar dengan gaya belajar lainnya. Contohnya adalah anak-anak yang gemar membuat gambar/ilustrasi selagi belajar, tapi juga sibuk merekam pelajaran gurunya. Kendati begitu, “Pasti ada gaya belajar yang dominan dan subdominan. Untuk mengetahui mana yang dominan dan mana yang subdominan, harus dilakukan observasi menyeluruh.”

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH

Kapan gaya belajar ini mulai dimiliki anak? “Sebenarnya, gaya belajar anak dipengaruhi oleh faktor bawaan atau sudah dari sananya.” Ada anak-anak yang memang memiliki fisik kuat dan prima sehingga cenderung memiliki gaya belajar kinestetik. Atau ada juga anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat dalam dirinya.

Ike lantas menganalogikan fenomena ini dengan kompensasi. Jika salah satu indra kurang berfungsi secara maksimal, maka umumnya indra lain akan menggantikannya. Jika penglihatan seorang anak kurang berfungsi, maka indra pendengarannya lebih menonjol sehingga ia lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian. Contohnya, para penyandang tunanetra biasanya memiliki indra pendengaran yang sangat tajam.

Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar seseorang. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya. Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya. Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya. Sementara anak seorang pelukis yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual. Nah, bagaimana dengan anak Anda?

KENALI CIRI-CIRINYA

Secara rinci Ike menyebutkan ciri-ciri dari masing-masing gaya belajar.

Auditory Learner

– Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
– Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
– Cenderung banyak omong.
– Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
– Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
– Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.

Visual Learner

– Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
– Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
– Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.
– Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
– Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
– Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
– Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

Kinesthetic/Tactile Learner

– Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
– Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
– Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.
– Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
– Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
– Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.
– Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top