Parenting

Yang terlupakan dalam mendidik Anak

perilaku orangtua

Begitu banyak hal yang harus diperhatikan ketika harus mengajar dan mendidik anak-anak. Oleh karenanya tidak semua orangtua paham cara mengajar dan mendidik anaknya dengan tepat. Padahal hal yang paling mendasar ketika mendidik anak adalah prilaku kita sendiri sebagai orangtua, hal ini merupakan sesuatu yang sering terlupakan dalam mendidik Anak. Apa saja perilaku orangtua yang berpengaruh terhadap pendidikan anak? Berikut ini perilaku yang terlupakan dalam mendidikan anak yang dilakukan oleh orangtua:

1. Perilaku tidak bertanggung jawab.
Banyak sekali contoh yang bisa diambil dari orangtua oleh Anak dalam hal tanggung jawab. Contoh terkecil yang sering kita temui di masyarakat adalah ketika orangtua melihat anaknya terjatuh pada saat bermain, kebanyakan orangtua akan menyalahkan benda yang menyebabkan anaknya terjatuh. Hal ini akan terlihat sepele pada hari itu, namun tahukah Anda jika hal sepele ini yang menyebabkan anak memiliki perilaku tidak bertanggung jawab, karena mengajari mereka menyalahkan masalah yang mereka temui. Bagaimana seharusnya sikap orangtua? Seharusnya orangtua bisa memberikan semangat kepada anak untuk bangkit lagi dan mengulurkan tangan agar anak tidak menangis lagi.

2. Perilaku sering mengancam
Perilaku seperti ini banyak dilakukan oleh orangtua ketika sudah putus asa dalam menasehati anaknya. Contohnya kebanyakan orangtua akan mengucapkan kalimat sebab-akibat dengan nada ancaman, contohnya; “Nak, jangan main sore-sore nanti di culik lho!” atau “Nak, jangan manjat pohon nanti jatuh kamu!” . Kalimat-kalimat mengancam tersebut tentu akan diingat oleh anak tapi yang terjadi akan sebaliknya ketika anak-anak melakukan hal yang dilarang dengan ancaman tapi ternyata ancaman orangtua tidak terbukti pada saat itu, maka mereka akan menganggap perkataan orangtua tidaklah serius. Atau sebaliknya ada anak yang akan menuruti perkataan orangtuanya dan efeknya anak akan tumbuh menjadi anak yang penakut. Lalu, bagaimana seharusnya orangtua bersikap?
Ada baiknya orangtua ketika hendak melarang tidak lagi menggunakan kalimat ancaman melainkan bisa menasehati dengan tegas namun tetap lembut. Contohnya: “Nak, ibu khawatir kalau kamu main jauh-jauh, kalau main jauh ijin ke Ibu dulu ya nak.”

3. Perilaku tidak menepati janji
Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidik anak. Konsisten merupakan kesesuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji dan ia sangat menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. Jadi jangan pernah selalu mengumbar janji pada anak dengan tujuan untuk merayunya agar ia mengikuti permintaan kita, seperti segera mandi, selalu belajar dan tidak menonton televisi. Pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

4. Perilaku marah-marah
Seringkali orang tua menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena tidak bisa mengatasi masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain.

Hal yang sebaiknya di lakukan orang tua adalah jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara “tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam-dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan/melakukan hal yang kelak kita sesali. Setelah terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya orang tua larang. Bila berlangsung berulang kali, maka anak akan selalu berusaha membiarkan amarah kita, yang ujung-ujungnya si anak menikmati dispensasi tersebut. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.

5. Perilaku membanding-bandingkan
Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Secara psikologis, kita tidak suka bila kita baik secara fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita, bagaimana perasaan kita saat itu?

Anehnya, kebanyakan orang tua justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar biasanya seperti, “Coba kamu rajin belajar seperti adikmu, pasti nilai kamu lebih baik!” Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang langsung akan dirasakan, yaitu anak kita makin tidak menyukai kita. Anak yang dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding akan merasa arogan dan tinggi hati.

Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan sekali-kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan perilaku masing-masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai-nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

Perilaku diatas banyak kita temui di masyarakat dan orangtua dalam mendidik anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top