Tips Belajar

12 Prinsip yang Diyakini Anak Cerdas Tentang Sekolah dan Proses Pembelajaran

12-prinsip-yang-diyakini-anak-cerdas-tentang-sekolah-dan-proses-pembelajaran

Anak cerdas, setiap orang tua tentu bangga jika memiliki anak yang cerdas. Kecerdasan yang dimiliki seseorang memang ada yang sudah bawaan (gen) sehingga hanya tinggal mengasahnya sedikit. Dan ada pula yang memang diperoleh karena usaha tertentu, salah satunya dengan proses pembelajaran secara tekun. Maukah bunda memiliki anak cerdas dan memabanggakan? Tentu mau kan. Tahukah bunda ternyata anak cerdas itu memiliki keyakinan mengenai prinsip tentang Sekolah dan Proses Pembelajaran yang membantunya bisa sukses dalam belajar dan memperoleh kecerdasannya. Menurut Credo dalam buku “Bagaimana Mengembangkan Kecerdasan” karangan dr. Sufyan Ramadhy menyebutkan bahwa prinsip yang diyakini oleh anak cerdas tersebut ada 12, uraiannya sebagai berikut:

1. Nobody can teach you as well as you can teach yourself

(Tidak ada seorang pun yang dapat mengajari kamu sebaik diri kamu sendiri). Jadi berdasarkan prinsip ini seorang anak cerdas tidak akan bergantung kepada orang lain ketika belajar, baik itu teman, guru, maupun orang tua. Karena ia yakin yang bisa membuat ia mengerti segala sesuatu itu ialah dirinya sendiri bukan orang lain, yakni melalui niat dan belajar sungguh-sungguh.

2. Merely Listening to your teachers and completing assignments is never enough

(Belajar itu tidak cukup hanya dengan mendengarkan guru kamu berbicara dan memenuhi segala tugas-tugas yang diberikannya). Seorang anak cerdas tidak akan merasa cukup belajar di Sekolah hanya mengenai apa yang disampaikan guru saja, tetapi ia akan terus belajar mengenai hal-hal yang belum ia ketahui.

3. Not everything you are assigned to read or asked to do is equally important

(Tidak setiap tugas membaca atau bertanya yang diberikan kepada kamu itu sama pentingnya). Anak yang cerdas pasti akan mengetahui mana tugas yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda dahulu.

4. Grades are just subjective opinions

(Peringkat atau ranking itu hanyalah merupakan pendapat subjektif, sehingga bukan segala-galanya). Anak yang cerdas tidak belajar untuk mendapatkan ranking, tapi belajar agar ia mengerti dan ia paham, karena dengan pemahamannya tersebut ranking pun akan mengikuti.

5. Making mistakes (and occasionally appearing foolish) is the price you pay for learning and improving.

(Berbuat salah dan sesekali tampak bodoh adalah harga yang harus kamu bayar selama belajar dan latihan). Anak cerdas tidak akan malu ketika berbuat salah ataupun dianggap bodoh oleh teman-temannya karena ia yakin belajar itu tidak mudah.

6. The point of a question is to get you to think-not simply to answer it.

(Maksud dari sebuah pertanyaan adalah agar kamu berpikir-bahwa tidak mudah untuk menjawabnya). Anak cerdas tahu bahwa setiap pertanyaan yang ada adalah untuk mengasah kemampuan berpikir, karena setiap pertanyaan memerlukan jawaban yang harus dipikirkan masak-masak agar jawabannya sesuai dengan apa yang diinginkan penanya.

7. You’re in school to learn to think for yourself, not to repeat what your textbooks and teachers tell you.

(Sekolah itu adalah tempat kamu untuk belajar memikirkan diri kamu sendiri, bukan hanya untuk mengulang apa yang telah dikatakan guru dan buku-buku teks akademik). Jadi anak cerdas belajar bukan untuk mengulang apa yang diajarkan guru ataupun buku, akan tetapi ia belajar bagaimana caranya agar dari penjelasan guru dan buku tersebut ia bisa menjadi apa yang ia inginkan.

8. Subjects do not always seem interesting and relevant, but being actively engaged in learning them is better than being passively bored and not learning them.

(Mata pelajaran itu tidak selalu tampak menarik dan relevan dengan kebutuhan kamu, namun bersikap aktif terlibat untuk mempelajarinya lebih baik daripada bersikap pasif dan tidak mempelajarinya). Betapapun tidak sukanya seorang anak cerdas dalam suatu pelajaran ia akan tetap mengikuti dan terlibat aktif pada saat proses belajar berlangsung. Karena ia yakin meski sedikit ia tetap akan memperoleh suatu ilmu, daripada hanya diam dan tidak mengikuti pembelajaran.

9. Few things are as potentially difficult, frustrating, or fightening as genuine  learning, yet nothing is so rewarding and empowering.

(Sedikit sesuatu yang cenderung sulit, menimbulkan frustasi, atau menakutkan seperti belajar sungguh-sungguh, sudah tak ada satupun yang sangat menghargai dan memberdayakan). Belajar itu banyak proses yang dialui, memang berat dan terkadang orang lain tidak menghargai usaha kita. Akan tetapi anak cerdas memakluminya dan ia akan terus berusaha dengan sungguh-sungguh.

10. How well you do in school reflects your attitude and your methods, not your ability.

(Seberapa baik prestasi anda di Sekolah hanya mencerminkan sikap dan metode belajar kamu, bukan menunjukan kemampuan belajar kamu sesungguhnya). Hal ini sejalan dengan fakta bahwa seseorang telah belajar apabila ia telah menunjukan perubahan perilaku, bukan seberapa tinggi prestasi yang ia capai.

11. If you’re doing it for the grades or for the approval of others, you,re missing the satisfactions of the process and putting your self-esteema at the mercy of things outside your control.

(Jika kamu mengerjakannya demi peringkat atau demi mendapatkan penghargaan dari yang lain, maka berarti kamu sedang mengharapkan kepuasan dari proses belajar kamu, dan meletakkkan harga diri kamu pada rasa belas kasihan terhadap sesuatu di luar kendali kamu). Maksudnya ketika kita belajar hanya demi prestasi, berarti kita telah memaksakan diri pada sesuatu yang kita belum tentu mampu melakukannya dan sebenarnya memang tidak perlu. Belajar adalah untuk kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya sekedar untuk mencari prestasi.

12. School is game, but it’s very important game.

(Sekolah hanyalah sebuah permainan, tetapi ia merupakan permainan yang sangat penting). Anak yang cerdas akan menganggap bahwa Sekolah tidak jauh berbeda dengan permainan, tetapi ia akan serius dalam melakukan permainan itu. Karena Sekolah bukan hanya sekedar permainan biasa, tapi permainan yang mengajarkan bagaimana cara menjalani kehidupan.

Nah jika kamu ingin menjadi anak cerdas maka hendaknya kamu juga meyakini prinsip ini, tapi sebaiknya tidak hanya sekedar diyakini namun diaplikasikan secara nyata. Agar hasilnya memang sesuai dengan apa yang diharapakan, dan kamu bisa menjadi anak cerdas yang membanggakan orang tua. Semangat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top